Nama latin : Nycticebus menagensis (Trouessart, 1893)
Nama Inggris : Phillipine Slow Loris
Nama lokal : Kalamasan (Banjar)

  • Dilindungi berdasarkan keputusan
    Menteri Pertanian, 14 Februari 1973, No. 66/Kpts/Um/2/1973.
    Undang-undang No. 5 Tahun 1990.
  • Redlist IUCN, Vulnerable (2008)
    Populasi di alam mengalami penurunan sebesar 30% dalam jangka waktu 21-24 tahun terakhir akibat perburuan dan kehilangan habitat.
  • CITES, Apendix I

Nycticebus menagensis sebelumnya masuk ke dalam subspesies N. coucang, namun kemudian dinaikkan menjadi spesies tersendiri. Berdasarkan publikasi penelitian terbaru, ditemukan 2 spesies kukang baru di tanah kalimantan yaitu Kukang Borneo (N. borneanus) dan Kukang Kayan (N. kayan)

Kukang terkecil di Indonesia, dengan panjang tubuh dari kepala hingga pangkal ekor sekitar 27-30 cm dan berat berkisar antara 265-600 gram.

Jenis ini ditemukan di Brunei, Indonesia (Kalimantan), Malaysia (Sabah dan Sarawak) dan Filipina (Tawi Tawi, Bongao, Sangasanga, dan mungkin sebagian kecil pulau di Kepulauan Sulu). Berdasarkan survey terhadap masyarakat, diperkirakan mengalami kepunahan secara lokal di beberapa pulau di Tawi Tawi (Filipina), meskipun begitu spesies ini masih bisa ditemukan di pulau yang lebih kecil.

Hutan primer dan sekunder dataran rendah, hutan bambu, hutan bakau. Kadang kadang mereka juga ditemukan di daerah perkebunan, terutama perkebunan cokelat. Kukang lebih sering ditemukan di tepi habitat hutan, hal ini kemungkinan karena pada daerah tepi memiliki dukungan kelimpahan sumber pakan.

Hampir separuh jenis makanannya adalah buah-buahan berserat. Selain itu, kukang juga makan serangga, dan binatang kecil lainnya, seperti moluska dan melata seperti kadal. Kadang-kadang memakan telur burung, dan biji-bijian dari suku leguminosae (biji polong), termasuk buah atau biji cokelat.
Kukang juga memakan nektar bunga, getah pohon dan hewan arthropoda dalam porsi kecil.

Kehidupan sosial kukang sangat sedikit sekali diketahui. Kukang sering ditemukan hidup menyendiri (soliter) di alam, atau terkadang terlihat berpasangan terutama pada saat musim kawin.

Pergerakan kukang sangat lambat, bergerak dengan menggunakan keempat anggota tubuhnya (quodropedal). Kadang-kadang mereka menggantung saat akan pindah ke dahan di depannya. Pada saat bergerak malam hari, Kukang jantan memberikan atau menandai dengan air kencingnya pada pohon yang dilalui untuk daerah teritorialnya.

Kukang sering mengeluarkan suara desisan (mendesis) bila merasa terganggu, baik pada jantan maupun betina. Suara desisan pada kukang yang masih bayi sedikit perlahan, terdengar saat akan menyusui. Suara panggilan juga kadang-kadang keluar saat terjadi sesuatu. Pada saat estrous tiba, betina mengeluarkan lengkingan yang cukup keras. Bayi kukang sering mendesis perlahan seperti akan menyusui dan sebagainya.

Mereka aktif pada malam hari (nokturnal) dan hidup di pohon (arboreal). Pada siang hari tidur di percabangan pohon, atau kadang-kadang di rumpun bambu, dan tidak membuat sarang.

Kukang Jawa
Kukang Sumatera
Kukang Kalimantan
×
×

Cart