#PenyelamatKukang, pernahkah kamu mendengar soal Primates in Peril? Mungkin ada yang pernah dengar sebelumya atau bahkan ada juga yang belum pernah mendengar istilah ini. Dalam artikel ini kamu akan lebih dekat mengenal asal-usul dan tujuan dari Primates in Peril.
Jadi, Apa Latar Belakang Disusunnya Primates in Peril?
Bertambahnya populasi manusia memberikan dampak pada populasi makhluk hidup lainnya, salah satunya primata. Populasi primata di seluruh dunia menghadapi berbagai persoalan dari dampak aktivitas manusia. Pemenuhan kebutuhan utama manusia (pangan, sandang, papan) secara berlebihan, mengancam berbagai aspek kehidupan primata yang menyebabkan populasi mereka semakin sedikit bahkan mengarah ke kepunahan.
Krisis ekologi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan konservasionis primata di seluruh dunia sehingga muncul inisiasi untuk membuat laporan kolektif yang memuat jenis-jenis primata dunia yang populasinya memprihatinkan dan butuh perhatian publik agar bisa terdukung upaya konservasinya. Laporan ini bertujuan untuk mengalihkan fokus dan sumber daya internasional kepada spesies primata yang paling rentan, memastikan bahwa upaya konservasi dilakukan secara strategis dan efisien.

Primates in Peril dipublikasi setiap 2 tahun sekali dan diberi judul ‘Primates in Peril’. Kata ‘Peril’ itu sendiri merujuk pada bahaya atau resiko. Penamaan ‘Primates in Peril’ dapat diartikan sebagai laporan tentang bahaya besar dengan resiko berat yang mengancam kehidupan primata. Harapannya laporan ini mendapat perhatian dan dukungan publik, serta memberi seruan pada pemerintah, donatur, pemberi sponsor, peneliti dan LSM Konservasi untuk segera mengambil tindakan kolaboratif yang terkoordinasi. Keterlibatan seluruh pihak dapat lebih kompak untuk menyelamatkan primata, khususnya yang masuk daftar laporan Primates in Peril, dari ancaman kepunahan.
Baca Juga: Terbongkar! Remaja 16 Tahun Terlibat Perdagangan Ilegal Satwa Liar di Batang, Jawa Tengah

Ada 12 Laporan dalam Kurun Waktu 25 Tahun Terakhir
Tahun 2000, IUCN SSC Primate Specialist Group bersama Conservation International menginisiasi penulisan laporan Primates In Peril. Semenjak tahun 2002, pada International Primatological Society Congress (IPS), daftar primata paling terancam punah di dunia ditinjau dan direvisi oleh para expert di bidang primata. Sejak itu, IPS bergabung sebagai mitra dalam penulisan laporan Primates in Peril. Disepakati jumlah jenis primata prioritas yang masuk ke dalam laporan ini sebanyak 25 jenis terpilih berdasarkan status kritisnya dan kerentanannya terhadap besarnya ancaman sehingga memerlukan perhatian publik. Daftar jenis primata dalam laporan ini dikelompokkan berdasarkan wilayah geografis, yakni Afrika, Madagaskar, Asia, dan Neotropik (Amerika Tengah dan Selatan). Primata Indonesia yang paling terancam punah masuk ke dalam daftar primata di wilayah Asia.
Selama 25 tahun hingga tahun 2025, laporan Primates in Peril sudah terpublikasi sebanyak 12 edisi yang diantaranya ada di bawah ini.
Setiap edisi laporan ini memuat daftar jenis primata di dunia yang telah diseleksi berdasarkan kategori ancamannya. Primata yang masuk dalam daftar ini digambarkan dalam foto dan atau ilustrasi. Tertulis pula daftar primata lain yang dipertimbangkan untuk mendapat perhatian publik di luar 25 jenis primata terpilih. Kontributor tulisan dalam Primates in Peril menuliskan beberapa paragraf tentang jenis primata yang dipaparkan, terkait habitat mereka, juga berisi profil jenis primata terpilih, seperti nama ilmiah, status IUCN, estimasi populasi, ancaman utama, dan rekomendasi upaya konservasi untuk jenis tersebut.
Laporan “Primates in Peril” berfungsi sebagai cermin kritis yang merefleksikan konsekuensi mendalam dari tekanan aktivitas manusia terhadap kelangsungan hidup primata. Masuknya 14 jenis primata Indonesia dalam daftar terbaru ini memperkuat urgensi bahwa krisis ini adalah tanggungjawab bersama. Diperlukan partisipasi multipihak, penguatan terhadap penegakan hukum, dan pendanaan yang berkelanjutan merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan primata Indonesia.
Laporan ini bukan hanya catatan kesedihan melainkan peta jalan yang mengarahkan semua pihak untuk segera membuat aksi kolektif yang berdampak nyata karena masa depan primata bergantung pada seberapa tanggap kita dalam menyelesaikan persoalan ini.

















