“Minggu lalu cuaca lagi panas banget, eh sekarang tiga hari berturut-turut hujan deras, alamat cucian nggak kering-kering!” Kira-kira begitu celotehan yang keluar dari mulut saya saat menilik cuaca di luar rumah. Saya yakin bukan cuma saya yang merasakan hal ini. Panas terik tiba-tiba tergantikan oleh rintik hujan yang datang tanpa permisi, lalu hilang tanpa pamit.
Saya baca-baca di berbagai sumber ternyata ini efek dari fenomena climate change atau perubahan iklim. Dulu waktu saya masih SD atau bahkan SMP, pelajaran soal climate change jadi topik yang sulit dicerna oleh nalar. Gas rumah kaca? greenhouse effect? ozon? jadi istilah yang sulit dipahami waktu itu. Barangkali nalar saya waktu itu belum sampai, atau mungkin cara penyampaiannya memang belum cukup membumi. Entahlah.
Kini, setelah coba memahami lebih dalam, sebenarnya prinsip perubahan iklim itu cukup sederhana. Semua ini soal kenaikan suhu di bumi. Suhu bumi yang naik dipicu oleh aktivitas yang bergantung pada bahan bakar seperti batu bara, minyak, dan gas. Aktivitas tersebut menghasilkan gas karbon dioksida (CO₂) dalam jumlah besar. Celakanya, ketika CO₂ terlalu banyak di atmosfer, panas matahari yang seharusnya dilepas kembali ke luar justru terperangkap.
Padahal secara alami karbon dioksida bisa diserap oleh pepohonan yang ada di hutan. Namun, pembabatan hutan besar-besaran membuat kemampuan alam menyerap CO₂ terus menurun. Tak ayal, energi panas yang seharusnya keluar dari sistem bumi malah tertahan di dalam, sehingga suhu global pun meningkat.
Agar lebih terbayang, mungkin fenomena ini bisa dianalogikan kalau perubahan iklim itu layaknya uap rebusan air yang terperangkap di tutup panci.
Pada pernyataan di atas, saya sempat bilang, kalau cuaca ekstrem yang panasnya semromong atapun hujan sawer itu ada hubungannya dengan perubahan iklim. Ya, pemanasan global juga memicu fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya jarang terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, pola musim semakin sulit diprediksi, ditambah lagi munculnya bencana banjir, kekeringan, longsor, hingga badai dan siklon.
Indonesia secara geografis berada di garis khatulistiwa yang selama ini dianggap relatif aman dari siklon. Sayangnya pernyataan itu berbeda dengan realita saat ini yang justru menunjukkan tanda mengkhawatirkan.
Pada akhir 2025, Siklon Senyar muncul di sekitar 5° Lintang Utara dekat batas minimal terbentuknya badai. Siklon ini menghantarkan badai dengan curah hujan yang tinggi dalam waktu lama. Banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan berbagai daerah di Indonesia.
Para ahli menilai ini sebagai sinyal kuat bahwa pola iklim sedang berubah. Laut yang semakin hangat akibat pemanasan global membuat kelembapan udara meningkat, yang kemudian berinteraksi dengan pola angin musiman dan fenomena atmosfer lainnya. Hal itu pun memicu pembentukan siklon di wilayah yang sebelumnya dianggap aman.
Dengan segala dampak yang muncul, tentu kebutuhan aksi keberlanjutan untuk iklim makin mendesak. Di tengah krisis ini, satwa primata telah sejak lama memegang peran yang sangat penting. Satwa primata ini menjadi kunci jawaban dari pengendalian iklim.

Primata sebagai Solusi Alami Krisis Iklim
Di Indonesia, terdapat 64 jenis satwa primata yang sebagian besarnya dilindungi. Luasan habitat yang semakin terbatas disertai dengan ancaman kejahatan satwa (perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan) menjadi pertimbangan mengapa suatu spesies masuk dalam daftar merah atau dilindungi.
Di balik kerentanannya, primata di hutan menjadi garda penting dalam membantu pengendalian iklim melalui upaya pengembalian kerusakan hutan atau reforestasi. Dengan kemampuannya sebagai agen penyebaran biji, primata menyimpan solusi alami yang sangat penting dalam proses reforestasi khususnya di hutan hujan tropis.
Satwa primata, termasuk monyet, orangutan, owa, dan lainnya mampu menjelajah wilayah yang sangat luas dalam satu hari. Pola makan mereka yang beragam dan didominasi oleh buah-buahan memungkinkan penyebaran biji dari berbagai spesies tumbuhan, bahkan ke area yang sulit beregenerasi secara alami. Keragaman tumbuhan yang terbantu oleh proses ini memperkuat ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim.
Belum berhenti disitu, primata masih punya kemampuan menakjubkan lain yang semestinya membuat manusia segan menunjukkan kesombongannya. Primata pemakan buah ini akan mencerna biji-bijian yang keras sekalipun. Biji yang melewati sistem pencernaan primata sering mengalami proses digestive escape, dimana lapisan keras biji terurai selama pencernaan. Kira-kira di belahan bumi mana manusia yang punya kemampuan semacam ini?
Ditambah lagi, fitur pada satwa primata ini meningkatkan tingkat perkecambahan dan membantu biji bertahan di lingkungan barunya. Bahkan kotoran primata pun mengandung nutrisi penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium menjadikannya pupuk alami yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Saya semakin terpukau akan kemampuan satwa primata saat mengetahui kalau seekor primata mampu menyebarkan hingga 1.000 biji per tahun. Jika dikalikan dengan jumlah individu dalam satu populasi, kontribusinya terhadap pemulihan hutan dan penyerapan karbon pasti jadi semakin signifikan.
Baca Juga: Bagaimana Penentuan Satwa Masuk Daftar Kategori Paling Terancam

Bukti Nyata Primata Dunia dalam Reforestasi
Dalam sebuah artikel yang diunggah oleh globalsociety.earth, diungkapkan berbagai hasil studi dan praktik konservasi telah menunjukkan keberhasilan peran primata dalam regenerasi ekosistem. Jadi berbagai pernyataan di atas bukanlah kiasan atau jargon semata.
- Di Peru, reintroduksi atau pelepasliaran monyet laba-laba hitam di Cagar Nasional Tambopata terbukti mendukung regenerasi hutan melalui penyebaran biji.
- Di Meksiko, penelitian di hutan Lacandon menunjukkan bahwa monyet laba-laba menyebarkan biji dari sekitar seratus spesies tumbuhan penting bagi pemulihan hutan tropis.
- Di Kolombia, monyet woolly berkontribusi pada pemulihan hutan terdegradasi melalui pola makan yang mencakup belasan spesies tumbuhan.
- Di Thailand, program reintroduksi owa dimanfaatkan untuk mendorong regenerasi hutan di taman nasional.
Di Indonesia, upaya serupa yang mendukung regenerasi ekosistem melalui pelepasliaran primata telah lama dijalankan. Berbagai lembaga konservasi berhasil memulihkan kondisi satwa yang sebelumnya ditemukan di luar habitat alaminya melalui program rehabilitasi.
Dalam proses ini, satwa yang dulunya menjadi korban dari perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan dipulihkan agar kembali ke kondisi semula. Naluri yang kembali liar, kondisi kesehatan yang membaik, serta perilaku yang menunjukkan kemandirian menjadi indikator kesiapan satwa untuk dilepasliarkan atau direintroduksi ke alam.
Rehabilitasi menjadi bentuk alternatif solusi bagi perlindungan terhadap primata dan habitatnya. Sebaik-baiknya solusi akan lebih baik jika kita menghindari masalah muncul. Kalau kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Sebisa mungkin satu sama lain kita saling mengingatkan bahwa tempat terbaik bagi satwa itu ada di alam. Bukan di kandang, rumah, atau bahkan mangkuk manusia.
Manusia juga primata yang semestinya terlibat langsung melindungi kehidupan. Kolaborasi global antara masyarakat, peneliti, pemerintah, dan komunitas lokal menjadi kunci untuk menjaga proses alami yang telah bekerja jauh sebelum krisis iklim terjadi.
Sebagai penutup, tulisan ini menjadi suatu refleksi bersama untuk menyadari dan memahami betapa pentingnya menjaga segala bentuk kehidupan di alam. Semua punya peran menjaga satu sama lain sejak hari pertama ada di bumi.





