Skip to content

Menu

  • MADU

untuk Kukang

document.addEventListener('DOMContentLoaded', function() { jQuery(function($){ var mywindow = $(window); var mypos = mywindow.scrollTop(); mywindow.scroll(function() { if (mypos > 40) { if(mywindow.scrollTop() > mypos) { $('#stickyheaders').addClass('headerup'); } else { $('#stickyheaders').removeClass('headerup'); } } mypos = mywindow.scrollTop(); }); }); }); #stickyheaders{ -webkit-transition: transform 0.34s ease; transition : transform 0.34s ease; } .headerup{ transform: translateY(-110px); /*adjust this value to the height of your header*/ }

Ecohorror Memicu Kekerasan Satwa Liar? Ketakutan Ekologis Masa Kini yang Salah Kaprah

  • Cahya Riza Haromaen
  • 13 Feb 2026
  • Campaign

Kamu pernah dengar soal legenda buaya putih? atau mungkin cerita makhluk bigfoot di Amerika yang bikin masyarakat segan buat sembarangan masuk ke hutan? Tahukah kamu kalau ternyata cerita-cerita itu termasuk dalam ecohorror loh!

Ecohorror merupakan sub-genre horror yang mencitrakan alam dan seisinya sebagai hal yang ditakuti atau disegani. Ketakutan yang muncul ini didominasi oleh hubungan manusia dan alam yang rusak, tidak seimbang, serta penuh konflik.

Asal-Usul Kenapa Genre Eco-Horror Ada

Mulanya, sastra fantasi dan horor berkembang sejak akhir abad ke-18, waktu itu ada trend soal meningkatnya kesadaran manusia terhadap bumi sebagai sebuah sistem planet. Periode tersebut kerap dikaitkan dengan awal Antroposen, yakni saat aktivitas manusia mulai berdampak signifikan terhadap bumi. Dalam hal tersebut, horor gak hanya merepresentasikan ketakutan individual, tetapi juga menjadi medium refleksi manusia dan alam yang semakin rapuh dan bermasalah.

Secara historis, ecohorror muncul seiring dengan fase krisis ideologis dan lingkungan. Pada 1950-an, horor ekologis dipengaruhi oleh kecemasan terhadap teknologi nuklir dan mutasi. Lalu tahun 1970-an, meningkatnya kesadaran akan polusi dan degradasi lingkungan melahirkan narasi tentang “serangan alam” terhadap manusia. Memasuki abad ke-21, ecohorror semakin lekat dengan perubahan iklim dan kepunahan spesies, dimana horor tidak lagi bersifat individual, melainkan global.

Sehingga ecohorror tidak hanya dipahami sebagai subgenre horor, melainkan juga sebagai mode naratif yang dapat hadir lintas genre dan medium. Rust dan Soles memaknai ecohorror sebagai narasi yang mencakup balas dendam alam terhadap kekerasan manusia pada lingkungan.

Emosi, terutama rasa takut, menjadi sensasi utama yang dibangun ecohorror. Ketakutan ini berkaitan sama hilangnya kontrol dan ketidakpastian. Bahkan kata Simon C Estok, ketakutan yang berlebihan sampai menganggap alam sebagai ancaman, bisa memicu ecophobia.

Namun, tidak semua ketakutan terhadap alam merupakan gangguan yang berlebihan. Ada juga ketakutan terhadap alam yang berakar pada rasa hormat dan sadar akan kekuatan alam. Menurut Alex dan Deborah hal ini disebut dengan ecofear, contohnya dalam komunitas adat. Dengan demikian, ecohorror bisa dibilang bersifat ambivalen karena dapat memperkuat ketakutan sekaligus membuka ruang refleksi etis atas relasi antara manusia dan alam.

Di ritual perpisahan oleh Dayak Bihak, owa kelempiau jadi simbol satwa yang disegani karena dipercaya akan menuntun roh menuju surga.  (Foto. Elvyra | YIARI)

Di Indonesia, Ecohorror juga Hadir Lewat Wujud Mitos

Ecohorror gak selalu hadir sebagai fiksi, melainkan juga wujud mitos satwa liar. Mitos lokal kukang, misalnya. Kukang dipercaya kebal api, sebagai media praktik ilmu hitam, bahkan ada yang percaya juga kukang bawa sial. Akibat representasi ini, tumbuh ketakutan dan satwa dianggap bukan bagian dari ekosistem, melainkan jadi entitas yang mengancam.

Situasi diperparah oleh kepercayaan dan rasionalitas yang menekankan kontrol dan dominasi. Akibatnya, banyak yang berburu kukang demi ‘pembuktian’ dan ‘kesaktian’. Alih-alih membongkar mitos melalui pengetahuan ekologis atau pendekatan etis, ketakutan sering direspons dengan dorongan untuk “menguji kebenaran” secara langsung. Akhirnya satwa yang gak bersalah jadi korban dari ketakutan dan kontrol ego manusia

Binturong yang mati di Banten karena warga kira hewan jadi-jadian. (Sumber. Istimewa)

Bahkan satwa yang jarang dilihat manusia seperti seekor binturong di atas dianggap sebagai “monster”, lalu dihukum melalui kekerasan. Inilah bentuk dari ecophobia sebagaimana dirumuskan Estok, yaitu ketakutan irasional terhadap alam yang berujung pada dominasi dan penghancuran. Sejalan dengan kritik Foucault, pengetahuan dalam konteks ini tidak bekerja secara netral, melainkan sebagai relasi kuasa, manusia menempatkan diri sebagai subjek yang berhak menguji, sementara satwa direduksi menjadi objek yang dapat dikorbankan.

Baca Juga: Primata untuk Iklim, Pemulih Alam di Tengah Krisis Iklim Global

Akibatnya, posisi kukang dan binturong menjadi semakin rentan. Selain menghadapi kehilangan habitat dan perdagangan ilegal. Padahal, satwa itu gak lagi menantang dan membahayakan kita. Mungkin yang perlu ditaklukkan bukan satwa, tapi cara pikir yang masih mengira kekerasan terhadap satwa adalah bukti keberanian. Ecohorror semestinya membantu manusia memandang satwa dan alam, bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung dan saling bergantung.

Referensi:

Alex, R. K., & Deborah, S. S. (2019). Ecophobia, Reverential Eco-fear, and Indigenous Worldviews. ISLE: Interdisciplinary Studies in Literature and Environment, 26(2), 422–429.

Foucault, Michel. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings 1972–1977. Edited by Colin Gordon. New York: Pantheon Books, 1980.

Estok, S. C. (2011). Ecocriticism and Shakespeare: Reading ecophobia. Palgrave Macmillan.

Rust, S. A., & Soles, C. (2014). Introduction: Ecohorror. ISLE: Interdisciplinary Studies in Literature and Environment, 21(3), 509–512. https://doi.org/10.1093/isle/isu091

Tidwell, C., & Soles, C. (Eds.). (2021). Fear and Nature: Ecohorror Studies in the Anthropocene (Vol. 8). Penn State University Press. https://doi.org/10.5325/j.ctv1mvw8h1.

  • binturong, ecohorror, kukang, kukang api, misteri

Tulisan lainnya dari

Cahya Riza Haromaen
Bagikan:
PrevPreviousPrimata untuk Iklim, Pemulih Alami di Tengah Krisis Iklim Global

Artikel

Lainnya

Primata untuk Iklim, Pemulih Alami di Tengah Krisis Iklim Global

Bagaimana Penentuan Satwa Masuk Daftar Kategori Paling Terancam?

Primates in Peril, Upaya Konservasionis Selamatkan Primata

5 Jenis Bunga Ini Penghasil Nektar Makanan Kukang

Pulihkan Kukang Senyumkan Hutan, Langgengkan Konservasi Kukang Melalui Rehabilitasi

Sambut HKAN, 8 Kukang Jawa Ditranslokasi ke Taman Nasional Ujung Kulon

Stop Kekang Kukang

Kukangku adalah gerakan kampanye dan penyadartahuan untuk pelestarian dan perlindungan kukang di Indonesia

Facebook Twitter Youtube Instagram Envelope
  • Beranda
  • Tentang Kukangku
  • Dinamika Konservasi
  • Kukang Sumatera
  • Kukang Jawa
  • Kukang Kalimantan
  • Penyerahan Sukarela
  • Temuan & Habitat Kukang
  • Lapor Kejahatan Satwa
  • Kisah Kukang
  • Kliping Berita Kukang
  • Video
  • FAQ

Didukung oleh Yayasan IAR Indonesia
Dikembangkan dan didesain oleh Rusmadipraja

© 2014 – 2026 Kukangku

Saya #PenyelamatKukang dan saya peduli terhadap kelestarian kukang di Indonesia.

Hei penyelamat kukang!
Bantu aku untuk tetap lestari di alam.

Close
Kukangku

Visi & Misi

Dinamika Konservasi Kukang

Kukang Indonesia

K. Sumatera

K. Jawa

K. Kalimantan

K. Bangka

K. Sumatera bag. Utara

K. Borneo

K. Kayan

Lapor

Pengembalian & Penyerahan Sukarela

Kejahatan Perburuan & Perdagangan

Temuan Kukang Liar & Habitat Alami

Blog

Catatan Kukangku

Kisah Kukang

Video

Kliping Berita

Edukasi

Penyerahan Sukarela

Penegakan Hukum

Penyelamatan Kukang

Pelepasliaran Kukang

Informasi

Call Center BKSDA

Daftar Satwa Dilindungi

Bantu Kukang

Donasi

Merchandise

Penyelamat Kukang

FAQ

Facebook Twitter Youtube Instagram