Kamu pernah dengar soal legenda buaya putih? atau mungkin cerita makhluk bigfoot di Amerika yang bikin masyarakat segan buat sembarangan masuk ke hutan? Tahukah kamu kalau ternyata cerita-cerita itu termasuk dalam ecohorror loh!
Ecohorror merupakan sub-genre horror yang mencitrakan alam dan seisinya sebagai hal yang ditakuti atau disegani. Ketakutan yang muncul ini didominasi oleh hubungan manusia dan alam yang rusak, tidak seimbang, serta penuh konflik.

Asal-Usul Kenapa Genre Eco-Horror Ada
Mulanya, sastra fantasi dan horor berkembang sejak akhir abad ke-18, waktu itu ada trend soal meningkatnya kesadaran manusia terhadap bumi sebagai sebuah sistem planet. Periode tersebut kerap dikaitkan dengan awal Antroposen, yakni saat aktivitas manusia mulai berdampak signifikan terhadap bumi. Dalam hal tersebut, horor gak hanya merepresentasikan ketakutan individual, tetapi juga menjadi medium refleksi manusia dan alam yang semakin rapuh dan bermasalah.
Secara historis, ecohorror muncul seiring dengan fase krisis ideologis dan lingkungan. Pada 1950-an, horor ekologis dipengaruhi oleh kecemasan terhadap teknologi nuklir dan mutasi. Lalu tahun 1970-an, meningkatnya kesadaran akan polusi dan degradasi lingkungan melahirkan narasi tentang “serangan alam” terhadap manusia. Memasuki abad ke-21, ecohorror semakin lekat dengan perubahan iklim dan kepunahan spesies, dimana horor tidak lagi bersifat individual, melainkan global.
Sehingga ecohorror tidak hanya dipahami sebagai subgenre horor, melainkan juga sebagai mode naratif yang dapat hadir lintas genre dan medium. Rust dan Soles memaknai ecohorror sebagai narasi yang mencakup balas dendam alam terhadap kekerasan manusia pada lingkungan.
Emosi, terutama rasa takut, menjadi sensasi utama yang dibangun ecohorror. Ketakutan ini berkaitan sama hilangnya kontrol dan ketidakpastian. Bahkan kata Simon C Estok, ketakutan yang berlebihan sampai menganggap alam sebagai ancaman, bisa memicu ecophobia.
Namun, tidak semua ketakutan terhadap alam merupakan gangguan yang berlebihan. Ada juga ketakutan terhadap alam yang berakar pada rasa hormat dan sadar akan kekuatan alam. Menurut Alex dan Deborah hal ini disebut dengan ecofear, contohnya dalam komunitas adat. Dengan demikian, ecohorror bisa dibilang bersifat ambivalen karena dapat memperkuat ketakutan sekaligus membuka ruang refleksi etis atas relasi antara manusia dan alam.

Di Indonesia, Ecohorror juga Hadir Lewat Wujud Mitos
Ecohorror gak selalu hadir sebagai fiksi, melainkan juga wujud mitos satwa liar. Mitos lokal kukang, misalnya. Kukang dipercaya kebal api, sebagai media praktik ilmu hitam, bahkan ada yang percaya juga kukang bawa sial. Akibat representasi ini, tumbuh ketakutan dan satwa dianggap bukan bagian dari ekosistem, melainkan jadi entitas yang mengancam.
Situasi diperparah oleh kepercayaan dan rasionalitas yang menekankan kontrol dan dominasi. Akibatnya, banyak yang berburu kukang demi ‘pembuktian’ dan ‘kesaktian’. Alih-alih membongkar mitos melalui pengetahuan ekologis atau pendekatan etis, ketakutan sering direspons dengan dorongan untuk “menguji kebenaran” secara langsung. Akhirnya satwa yang gak bersalah jadi korban dari ketakutan dan kontrol ego manusia

Bahkan satwa yang jarang dilihat manusia seperti seekor binturong di atas dianggap sebagai “monster”, lalu dihukum melalui kekerasan. Inilah bentuk dari ecophobia sebagaimana dirumuskan Estok, yaitu ketakutan irasional terhadap alam yang berujung pada dominasi dan penghancuran. Sejalan dengan kritik Foucault, pengetahuan dalam konteks ini tidak bekerja secara netral, melainkan sebagai relasi kuasa, manusia menempatkan diri sebagai subjek yang berhak menguji, sementara satwa direduksi menjadi objek yang dapat dikorbankan.
Baca Juga: Primata untuk Iklim, Pemulih Alam di Tengah Krisis Iklim Global
Akibatnya, posisi kukang dan binturong menjadi semakin rentan. Selain menghadapi kehilangan habitat dan perdagangan ilegal. Padahal, satwa itu gak lagi menantang dan membahayakan kita. Mungkin yang perlu ditaklukkan bukan satwa, tapi cara pikir yang masih mengira kekerasan terhadap satwa adalah bukti keberanian. Ecohorror semestinya membantu manusia memandang satwa dan alam, bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung dan saling bergantung.





