Di Indonesia, banyak sebaran daerah yang jadi habitat para satwa primata. Dan gak sedikit juga dari habitat primata ini yang berbatasan dengan kawasan tempat manusia beraktivitas. Contohnya seperti di jalanan, kebun, permukiman, dan juga tempat wisata. Di lokasi-lokasi itu lah kerap kali kita melihat praktik pemberian pakan terhadap primata oleh manusia.
Lalu, apa jadinya kalau primata terus-terusan diberi pakan oleh manusia?
Layaknya manusia yang terus hidup bergantung pada uluran tangan, primata juga akan berperilaku sama. Hidup dengan ketergantungan. Sebelum lebih lanjut membahas dampaknya, mari kita kenali dulu fenomena yang punya istilah Provisioning ini. IUCN SSC Primate Specialist Group atau Kelompok Spesialis Primata dari Komisi Penyelamatan Spesies Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam, baru saja merilis pernyataan sikap terhadap pemberian pakan oleh manusia kepada primata.
Dalam laporan itu dituliskan kalau Provisioning didefinisikan sebagai “pemberian makanan kepada satwa liar yang melampaui ketersediaan atau kualitas sumber pangan alami di lingkungan mereka” (Fa 1986). Provisioning ini bisa terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja.

Provisioning sudah terjadi secara luas di berbagai negara. Praktik ini bisa dibilang punya dasar yang cukup kuat karena memiliki akar dari budaya dan sosial sehingga sudah mengakar secara turun-temurun demi keberlanjutan histori dari suatu budaya dan keagamaan.

Salah satunya, budaya pesta makan ‘All You Can Eat’ bagi monyet di Thailand. Bayangkan, bukan hanya manusia yang bisa mengisi perut sepuasnya dengan makanan. Para monyet ‘beruntung’ ini juga bisa mengisi perut sepuasnya dengan segala persembahan yang disajikan.
Dilansir melalui kanal Vice Indonesia, acara ini bertajuk Festival Prasmanan Monyet yang digelar setiap akhir November di kota Lopburi di kawasan tengah Thailand. Perayaan yang sudah berlangsung sejak 1989 ini ditujukan sebagai persembahan bagi ribuan monyet di kota itu.
Baca juga: Tren Pelihara Monyet Marak di Instagram Influencer
Primata yang berkeliaran di Lopburi dipercaya oleh penduduk setempat sebagai keturunan langsung titisan dewa berwujud kera putih (Hanoman) yang berasal dari wiracarita Ramakien, versi lokal Ramayana India. Karena kepercayaan inilah monyet sangat dihormati di sana.
Faktanya, provisioning ini memang akan mengancam satwa dan manusia namun tidak serta merta membuat kegiatan ini harus ditiadakan. Untuk itu, IUCN SSC Primate Specialist Group mendorong para pelaku provisioning budaya dan keagamaan untuk mempertimbangkan keberlanjutan dan dampaknya terhadap kesehatan.
Semua Kena Imbas, Ini Dia Dampak-Dampak Provisioning
Primata yang diberi makan oleh manusia akan rentan tertular penyakit. Begitu pun manusia yang memberikan pakan ke primata, sama-sama punya potensi tertular penyakit zoonosis mengingat adanya interaksi yang dekat dengan si primata.
Berdasarkan Trianto et al. 2021, pembiasan pemberian pakan non-alami oleh manusia menyebabkan primata mengalami penurunan keterampilan bertahan hidup di alam. Si primata ini bakal ketergantungan sama makanan yang diberikan sehingga kesulitan cari makanannya sendiri.
Ditambah juga, pemberian pakan non-alami bikin konflik muncul antara primata mengingat sebagian besar pakan non-alami ini tersedia di sekitar wilayah jelajah primata. Adanya konflik antara primata dan masyarakat dapat mempercepat terjadinya penurunan populasi apalagi jika masyarakat sudah menganggap primata ini sebagai hama atau pengganggu. Tak menutup kemungkinan juga terjadi penyerangan oleh primata terhadap manusia ataupun sebaliknya.

Lantas bagaimana kita harus bersikap terhadap provisioning oleh manusia terhadap primata?
Berdasarkan penjabaran sikap oleh IUCN SSC Primate Specialist Group terdapat rekomendasi yang dapat diaplikasikan dalam menghadapi fenomena provisioning, kami membaginya menjadi tiga sikap utama diantaranya:
1. Pendekatan Sosial dan Budaya
Di banyak lokasi, provisioning punya sejarah panjang yang berkaitan dengan praktik budaya dan hubungan manusia dengan primata, jadi gak tidak bisa serta-merta dihapuskan begitu aja.
Untuk meminimalkan dampak negatifnya, langkah-langkah seperti mengganti makanan olahan manusia dengan pakan alami bisa jadi alternatif yang lebih ramah satwa. Selain itu, pendekatan perubahan perilaku manusia lewat edukasi dan penyadartahuan jadi kunci untuk mengurangi praktik provisioning ini. Tentunya tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya yang melekat dalam tradisi tersebut.

2. Pelibatan Tokoh Masyarakat dan Pemangku Kebijakan
Pemimpin budaya dan otoritas keagamaan perlu dilibatkan dalam mempromosikan praktik yang lebih ramah terhadap satwa liar. Selain itu, kebijakan pengelolaan limbah yang efektif harus diterapkan guna mencegah provisioning yang tidak disengaja sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit antara manusia dan primata.
Praktisi juga didesak untuk memastikan bahwa praktik pemberian pakan primata di publik tidak menjadi norma sosial di wilayah yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi primata maupun manusia. Mereka pun diharapkan aktif memperingatkan otoritas negara terkait munculnya potensi hotspot provisioning di pinggir jalan, agar dapat dilakukan mitigasi keselamatan lalu lintas.

3. Pendekatan melalui Penelitian, Riset, dan Sains
Pendekatan berbasis penelitian, riset, dan sains sangat penting dalam menyikapi fenomena provisioning atau pemberian pakan kepada primata oleh manusia. Para peneliti dan praktisi konservasi juga didorong untuk mengomunikasikan dampak negatif provisioning kepada publik secara luas, guna membangun kesadaran yang lebih menyeluruh. Di sisi lain, penting untuk mengakui bahwa primata memiliki kapasitas belajar, beradaptasi, dan berinovasi dalam merespons berbagai metode mitigasi interaksi negatif dengan manusia.
Dalam pengelolaan populasi primata yang terdampak provisioning, teknik invasif seperti translokasi dan sterilisasi dijadikan opsi terakhir. Opsi ini hanya digunakan setelah pendekatan perubahan perilaku manusia dan metode non-invasif diuji secara menyeluruh. Jika pun diterapkan, metode invasif ini wajib didampingi oleh riset serta pemantauan jangka panjang untuk memastikan kesejahteraan individu primata, menjaga kelestarian ekosistem, serta memperhatikan komunitas manusia yang terlibat.






