Skip to content

Menu

  • MADU

untuk Kukang

document.addEventListener('DOMContentLoaded', function() { jQuery(function($){ var mywindow = $(window); var mypos = mywindow.scrollTop(); mywindow.scroll(function() { if (mypos > 40) { if(mywindow.scrollTop() > mypos) { $('#stickyheaders').addClass('headerup'); } else { $('#stickyheaders').removeClass('headerup'); } } mypos = mywindow.scrollTop(); }); }); }); #stickyheaders{ -webkit-transition: transform 0.34s ease; transition : transform 0.34s ease; } .headerup{ transform: translateY(-110px); /*adjust this value to the height of your header*/ }

Beda dari yang lain: Spesies Invasif, Pendatang yang Mengubah Keseimbangan Ekosistem

  • Alfian Agustian
  • 2 Jul 2026
  • Campaign

Pernah gak sih, kamu melihat satu jenis tumbuhan yang tumbuh banyak banget sampai menutupi perairan? Atau mendengar cerita ikan asing yang tiba-tiba mendominasi sungai sampai bikin ikan lokal mulai sulit ditemukan?

Yap, ini bisa terjadi karena adanya spesies ‘pendatang baru’ di alam. Namun, tidak semua spesies baru di alam langsung menjadi ancaman. Sebagian bahkan gagal bertahan hidup. Tapi ada juga yang justru berkembang terlalu cepat dan mulai mengubah keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Spesies inilah yang dikenal sebagai spesies invasif.

Sederhananya, spesies invasif adalah spesies yang mampu berkembang dan mendominasi habitat baru hingga mengganggu spesies lain di dalamnya. Dalam banyak kasus, spesies ini awalnya masuk akibat aktivitas manusia, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Namun, tidak semua spesies asing yang diperkenalkan ke habitat baru akan menjadi invasif. Ada perbedaan penting antara spesies asli, spesies introduksi, dan spesies invasif.

Perbedaan antara spesies asli, spesies introduksi, dan spesies invasif.

Yang pertama, spesies asli atau native species merupakan satwa dan tumbuhan yang memang berasal dari suatu wilayah dan telah beradaptasi dengan lingkungan tersebut dalam waktu yang sangat lama. Mereka menjadi bagian dari keseimbangan alami ekosistem.

Sementara itu, spesies introduksi adalah spesies yang berasal dari wilayah lain lalu dipindahkan manusia ke habitat baru. Jalur masuknya bisa bermacam-macam, mulai dari perdagangan satwa peliharaan, budidaya perikanan, tanaman hias, hingga pelepasliaran.

Nah, tidak semua spesies introduksi akan berubah menjadi invasif. Sebagian gagal berkembang karena tidak cocok dengan kondisi lingkungan baru. Ada yang tidak mampu bersaing dengan spesies lokal. Ada juga yang tidak berhasil berkembang biak.

Masalah baru muncul ketika suatu spesies introduksi punya kemampuan adaptasi tinggi, berkembang biak dengan cepat, dan menguasai sumber daya lebih baik daripada spesies asli. Ibaratnya nih, kayak sebuah rumah bersama, di mana setiap penghuni awalnya punya ruang dan perannya masing-masing.

Lalu tiba-tiba datang penghuni baru yang mengambil terlalu banyak makanan, berkembang lebih cepat, dan mulai menguasai ruang yang tersedia. Perlahan, penghuni lama pun tersisih. Yap, kurang lebih seperti itulah cara spesies invasif mengganggu keseimbangan ekosistem.

Dalam ekologi, spesies invasif dianggap sebagai salah satu ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati dunia. Dampaknya gak cuma dirasakan satwa liar, tetapi juga manusia. Spesies invasif dapat mengganggu rantai makanan, mengubah struktur habitat, menyebarkan penyakit, merusak pertanian, hingga menyebabkan kerugian ekonomi dalam jumlah besar.

Sering kali masalah ini muncul perlahan dan tidak langsung terlihat, awalnya mungkin hanya ada beberapa individu yang dilepas ke alam. Tapi ketika spesies tersebut berhasil berkembang tanpa predator alami yang mengendalikan populasinya, efek domino ekologis mulai terjadi, spesies lokal kalah bersaing, habitat berubah, populasi menurun, ekosistem perlahan kehilangan keseimbangannya.

Ironisnya, banyak kasus spesies invasif justru bermula dari sesuatu yang terlihat sederhana. Ada ikan peliharaan yang dilepas ke sungai karena kasihan. Ada kura-kura yang dibebaskan ke danau agar “hidup lebih bebas”. Ada pula tumbuhan asing yang awalnya hanya digunakan sebagai tanaman hias. Padahal, alam bukan tempat kosong yang bisa diisi sembarangan.

Setiap ekosistem memiliki keseimbangan yang terbentuk melalui proses evolusi sangat panjang. Ketika satu spesies baru masuk dan berkembang tanpa kendali, keseimbangan itu bisa berubah perlahan tanpa disadari. Kadang, ancaman terbesar bagi alam bukan datang dari satwanya, melainkan dari cara manusia memperlakukan ekosistem.

Referensi:

GEF Indonesia SCIP–Bappenas. (2025, October 31). Jangan asal melepas satwa ke alam liar: Kenali spesies invasif untuk menjaga keanekaragaman hayati perkotaan. https://scip.bappenas.go.id/berita/read/jangan-asal-melepas-satwa-ke-alam-liar-kenali-spesies-invasif-untuk-menjaga-keanekaragaman-hayati-perkotaan

Gunung Ciremai [@btn.ciremai]. (2018, November 23). Tidak sembarang lepas liar satwa di Taman Nasional Gunung Ciremai [Facebook post]. Facebook. https://www.facebook.com/btn.ciremai/posts/tidak-sembarang-lepas-liar-satwa-di-taman-nasional-gunung-ciremaiunggahan-foto-p/1940013126090705/

Mustika, A. B., Wicaksono, F. R., & Rahma, H. S. (2024). Keanekaragaman spesies asing invasif di area lahan pertanian Desa Ngrombo, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 7(4), 16342–16351. https://doi.org/10.31004/jrpp.v7i4.37543

National Geographic Indonesia. (n.d.). Peneliti BRIN ungkap ancaman spesies asing invasif di Taman Nasional Ujung Kulon dan Baluran. https://nationalgeographic.grid.id/read/134360443/peneliti-brin-ungkap-ancaman-spesies-asing-invasif-di-taman-nasional-ujung-kulon-dan-baluran

Sehati, D. P., & Solfiyeni, S. (2023). Keanekaragaman vegetasi pada habitat yang terinvasi tumbuhan invasif di Hutan Kota Bukit Langkisau Painan, Sumatra Barat. Jurnal Biologi Universitas Andalas, 11(1), 29–38. https://doi.org/10.25077/jbioua.11.1.29-38.2023

Umar, C., Kartamihardja, E. S., & Aisyah. (2015). Dampak invasif ikan red devil (Amphilophus citrinellus) terhadap keanekaragaman ikan di perairan umum daratan di Indonesia. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 7(1), 55–61. https://doi.org/10.15578/jkpi.7.1.2015.55-61

Zhang, L., Rohr, J., Cui, R., Xin, Y., Han, L., Yang, X., Gu, S., Du, Y., Liang, J., Wang, X., Wu, Z., Hao, Q., & Liu, X. (2022). Biological invasions facilitate zoonotic disease emergences. Nature Communications, 13, Article 1762. https://doi.org/10.1038/s41467-022-29378-2

Tulisan lainnya dari

Alfian Agustian
Bagikan:
PrevPreviousMenguak Babak Baru Sampah di Kehidupan Satwa Liar

Artikel

Lainnya

Menguak Babak Baru Sampah di Kehidupan Satwa Liar

Ecohorror Memicu Kekerasan Satwa Liar? Ketakutan Ekologis Masa Kini yang Salah Kaprah

Primata untuk Iklim, Pemulih Alami di Tengah Krisis Iklim Global

Bagaimana Penentuan Satwa Masuk Daftar Kategori Paling Terancam?

Primates in Peril, Upaya Konservasionis Selamatkan Primata

5 Jenis Bunga Ini Penghasil Nektar Makanan Kukang

Stop Kekang Kukang

Kukangku adalah gerakan kampanye dan penyadartahuan untuk pelestarian dan perlindungan kukang di Indonesia

Facebook Twitter Youtube Instagram Envelope
  • Beranda
  • Tentang Kukangku
  • Dinamika Konservasi
  • Kukang Sumatera
  • Kukang Jawa
  • Kukang Kalimantan
  • Penyerahan Sukarela
  • Temuan & Habitat Kukang
  • Lapor Kejahatan Satwa
  • Kisah Kukang
  • Kliping Berita Kukang
  • Video
  • FAQ

Didukung oleh Yayasan IAR Indonesia
Dikembangkan dan didesain oleh Rusmadipraja

© 2014 – 2026 Kukangku

Saya #PenyelamatKukang dan saya peduli terhadap kelestarian kukang di Indonesia.

Hei penyelamat kukang!
Bantu aku untuk tetap lestari di alam.

Close
Kukangku

Visi & Misi

Dinamika Konservasi Kukang

Kukang Indonesia

K. Sumatera

K. Jawa

K. Kalimantan

K. Bangka

K. Sumatera bag. Utara

K. Borneo

K. Kayan

Lapor

Pengembalian & Penyerahan Sukarela

Kejahatan Perburuan & Perdagangan

Temuan Kukang Liar & Habitat Alami

Blog

Catatan Kukangku

Kisah Kukang

Video

Kliping Berita

Edukasi

Penyerahan Sukarela

Penegakan Hukum

Penyelamatan Kukang

Pelepasliaran Kukang

Informasi

Call Center BKSDA

Daftar Satwa Dilindungi

Bantu Kukang

Donasi

Merchandise

Penyelamat Kukang

FAQ

Facebook Twitter Youtube Instagram