18 Kukang Berhasil Diselamatkan dari Sindikat Penjual Online

CIREBON – Sedikitnya 18 kukang, primata yang dilindungi, diamankan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum, Kementerian Lingkungan Hidup. Kukang tersebut diamankan dari penjual online di daerah Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Dokter hewan International Animal Rescue, Wendi P, mengaku pihak kepolisian setempat masih melakukan penanganan terhadap 18 kukang tersebut. Pihaknya juga belum mengetahui secara pasti bagaimana kukang tersebut diperdagangkan.

“Informasi yang didapat, kukang tersebut dibuat minyak kukang yang dijual ke Riau untuk minyak pelet, selain itu ini juga merupakan perdagangan internasional,” katanya kepada Okezone, Jumat (20/1/2017).

Pihaknya bersama Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup masih menunggu pemeriksaan kepolisian guna mengetahui sindikat perdagangan online itu.

“Kami juga masih menunggu proses selanjutnya dari pihak kepolisian setempat,” ungkapnya.

Kukang  (Nycticebus  sp)  atau  yang  dikenal  dengan  nama  lokal  malu-malu merupakan  primata  yang dilindungi  oleh  Undang-Undang Nomor  5  Tahun  1990  dan  Peraturan  Pemerintah Nomor  7  Tahun 1999.

Kukang  juga  dilindungi  oleh  peraturan  internasional  dan  termasuk  dalam  Apendiks  I CITES (Convention  International on Trade  of  Endangered  Species) ini, dilarang  dalam  segala  bentuk  perdagangan  internasional.

Ada  tiga  jenis  kukang  di  Indonesia,  yakni kukang  jawa  (nycticebus javanicus), kukang  Sumatera  (nycticebus  coucang) , dan  kukang  Kalimantan (nycticebus  menagensi). Berdasarkan data Red List IUCN  (International Union for Conservation  of  Nature) kukang  Jawa termasuk  dalam  kategori  kritis  dan  juga  termasuk  di  antara  20  jenis  primata  di dunia  yang  paling terancam punah.

Data  IAR  Indonesia  menunjukkan pada 2015 setidaknya 200-250  individu  kukang  ditawarkan  di  tujuh  pasar besar  di  empat  kota  besar  Indonesia. Sementara  dari pantauan online  2015 menunjukkan  sebanyak  400  individu  kukang  dipelihara  oleh  pemilik  media  sosial.

Pada 2016, display kukang di pasar mulai tertutup karena kegiatan penindakan hukum terhadap pedagang. Namun, perdagangan onlinetetap berjalan. Data pada 2016 menunjukkan bahwa sebanyak 550 kukang diperdagangkan oleh 35 grup jual beli hewan di media sosial Facebook. Rata-rata harga pasaran kukang dijual seharga Rp350 ribu.

Berdasarkan  hasil penelusuran  tersebut , sebanyak  30% kukang  mati  di  siklus  perdagangan.  Dengan demikian , jumlah  kukang  yang diburu  30% lebih  banyak  dari  jumlah  kukang  di  tangan pemelihara. Artinya sepanjang 2015-2016, ada lebih dari 1.000 kukang  yang  sudah  diambil  dari  habitat.

Dengan angka perputaran uang di pasar lebih dari Rp350 juta. Kukang yang sudah diambil dari alam perlu direhabilitasi terlebih dahulu guna memulihkan perilaku liarnya. Biaya rehabilitasi hingga dilepaskan lagi ke alam yang dikeluarkan oleh pusat rehabilitasi untuk 1-5 individu kukang mencapai Rp100 juta.

 

Sumber: https://news.okezone.com/read/2017/01/20/525/1596880/18-kukang-berhasil-diselamatkan-dari-sindikat-penjual-online (Jurnalis: Dwi Ayu Artantiani)

Sebarkan kepada penyelamat kukang lainnya

Artikel Terkait

#StopKekangKukang

Setiap tahunnya ribuan kukang mati sia-sia di tangan pemburu, pedagang dan juga pemelihara.
Bantu dan selamatkan mereka dari ancaman kepunahan.

Menjadi Penyelamat Kukang

Close Menu